Potensi Zakat Malut Rp 800 Miliar

Potensi Zakat Malut Rp 800 Miliar

SOFIFI – Potensi zakat untuk di Maluku Utara sesuai perhitungan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Maluku Utara lebih dari Rp 800 miliar. Ini akan dimanfaatkan secara spasifik satu persen untuk pemberdayaan kabupaten dan kota. Dana zakat yang dikelola Baznas ini pelaksanaannya berlandaskan perintah rukun zakat yang hukunya wajib bagi setiap Muslim.

“Zakat sebesar ini apabila dikelola dengan baik, maka akan mengurangi angka kemisikinan, Saat ini Baznas memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat,”ungkap Kepala Baznas Malut Iskandar M Jae, Minggu (9/6).

Menurutnya, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 hingga turun peraturan pemerintah dan instruksi presiden, dan Baznas merupakan lembaga pemerintah non struktural yang bertanggungjawab langsung kepada presiden melalui menteri. Baznas merupakan lembaga yang diberikan kewenangan mengelola zakat secara nasional.

“Tujuannya mengoptimalkan pengumpulan dan pengolahan zakat secara efektif dan efisien. Mengajak  kaum muslimin  berzakat melalui Baznas dan struk pembayaran zakat dikenakan pajak sesuai yang diatur undang-undang,” jelasnya.

Dikatakan, tujuan zakat untuk mengurangi angka kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama ini pemahaman orang tentang zakat berdasarkan tuntas dan  memberikan langsung.

“Terus terang, kinerja Basnaz saat ini belum maksimal setalah vakum dua tahun, baru dibentuk empat bulan lalu, kini baru konsolidasi internal dan koordinasi yang sifatnya penguatan kelembagaan,” paparnya.

Dijelaskan, untuk kesejahteraan dan pemberantasan kemiskinan, arahnya lebih jelas dan sifatnya jangka panjang. Zakat yang diberikan sesuai yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah bulanan. Ini sedikit berbeda dengan yang dilakukan pemerintah.

Oleh karena itu, Baznas dipercayakan mengelola zakat secara maksimal dan  diperuntukkan untuk kaum fakir miskin. “Zakat ini penting bagi ummat muslim,” katanya.

Target kedepan orang dapat memahami zakat  sabagai satu potensi, bukan seseorang telah merasa membayar zakat, akan tetapi bagaimana seseorang membayar zakat menjadi gaya hidup. Apabila suatu saat tidak membayar zakat maka ia merasa tidak nyaman. “Begitu ingat harta, ingat pendapatan, maka ingat zakat, infak, dan sadakah,” paparnya. (fab)

Categories: Berita Utama

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*