Mantan Kepala PLN Weda Tipu Pelanggan

Mantan Kepala PLN Weda Tipu Pelanggan

WEDA–Mantan Kepala PLN Weda, Halmahera Tengah Abdullah Bugis didunga menipu salah seorang pekanggan bernama Hi. Latif. Pengusaha kos-kosan di Desa Nurweda, Kecamatan Weda ini dimintai uang puluhan juta untuk membeli meteran listrik, belakangan ternyata tipu Abdullah yang kini pindah tugas di PLN Rayon Sofifi.

Latif menuturkan, dirinya membeli meteran pra bayar (meteran pulsa) sebanyak 11 unit untuk dipasang di kamar kontrakannya. Meteran itu dibeli langsung ke PLN Weda.

Apesnya, kurang lebih dua tahun dicabut petugas PLN Sofifi untuk penertiban pemakain tenaga listrik (P2TL). Sebab meteran yang dipasang di kamar kosnya tidak terdaftar sebagai pelanggan PLN Weda.

“Meteran listrik itu saya beli langsung di Kepala PLN Weda saat itu dijabat Abdullah Bugis,” katanya, Minggu (15/10).

Ia mengaku, 11 meteran PLN  itu dibayar  Rp 22,5 juta, baru dipasang 10 unit dua petugas PLN bernama Taher dan Gani. Abdullah Bugis juga meminjam uang dengan alasan membayar sewa mobil pemuatan mesin PLN dari Sofifi ke Weda.

Sebab itu, Latif meminta Abdullah Bugis dan dua anak buahnya, Taher dan Gani mengganti uangnya karena telah ditipu. “Saya minta uang yang telah ambil segera ganti rugi,” tegasnya.

Ia terpaksa membayar kembali biaya pendaftaran meteran listrik sebesar Rp 10.250.000 untuk 11 meteran. Saat temuan tim P2TL, dirinya langsung daftar ulang, tapi lebih murah dibandingkan pendaftaran awal sebesar Rp 22.500.000. Dikatakan, uang Rp 22.500.000 yang diambil Abdullah Bugis, sisanya dibagikan kepada Taher dan Gani.

Kepala PLN Weda, Risdam Ridwan saat dikonfirmasi mengatakan sesuai data Latif tidak terdaftar sebagai pelanggan PLN Weda. Mantan Kepala PLN Maba ini mengaku proses pembelian meteran semasa Abdullah Bugis, dibayar atau  tidak dirinya tidak tahu.

Yang jelas itu terjadi sesama kepala PLN sebelumnya. Dikatakan temuan pelanggaran PLN Sofifi saat penertiban APP atau Kw meter akan ditindaklanjuti.

Atas pelanggaran itu, Risdam mengaku Latif harus membayar biaya pendaftaran baru, sekaligus membayar denda pemkaian setrum selama pemakaian (loosstrom) sejak pemasangan. “Jadi denda tergantung daya yang digunakan,” paparnya.

Dijelaskan, pelanggan harus melunasi jika tidak  akan dibongkar. Rencananya, Rabu pekan depan tim P2TL Sofifi bakal balik lagi. “Sebenarnya biaya pembayaran meteran baru sekitar Rp 900 ribu bukan Rp 2 juta seperti diminta mantan kepala PLN Weda,” ujarnya.

Sementara pegawai PLN Weda Taher dikonfirmasi mengaku, uang yang ditransfer ke mantan kepala PLN Weda Abdullah Bugis sebesar Rp 15 juta, diambil Rp 13 juta oleh mantan kepala PLN, sisanya Rp 7 juta digunakan ongkos pemasangan 11 meteran di kamar kos  Latif. “Kita hanya menjalankan perintah atasan,” tangkis Taher. (hrn)

Categories: Seputar Daerah, Teknologi

About Author

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*